Gadis itu duduk di taman yang telah membuatnya merasakan perasaan sakit hati terhadap seseorang yang amat disayanginya. Seakan membawa kembali kepingan-kepingan kesedihan yang tergambar jelas di dalam pikirannya. Pikirannya menjadi terbang melayang di hari dimana seseorang itu meninggalkanya.
"Apa kau masih mengingat akan janjimu dulu?" tanya seorang gadis yang duduk di bawah bangku pohon itu.
Seseorang yang lain yang diajaknya berbicara, berjalan mendekat ke arahnya dan menyandarkan tubuhnya ke bangku itu seraya berkata, "Ya, aku masih ingat akan janji itu."
Gadis itu memandangnya dengan tatapan sendu. Seakan menahan kesedihan yang mendalam.
"Kamu masih mengingatnya tetapi kamu mengingkarinya. Aku selalu menanti tanpa kunjung berharap suatu saat kamu mengirimkan kabar bagiku tetapi sama sekali tidak ada. Kamu tahu kan hal seperti itu bisa membuat kecewa seseorang?" kata gadis itu dengan berlinang air mata. Baginya ini terlalu menyesakkan dadanya, yang membuatnya ingin marah, kecewa, sekaligus rindu dengan pujaan hatinya itu.
"Maafkan aku." kata lelaki itu.
Dia lalu menggenggam tangan gadis itu dengan lembut. "Aku tahu permintaan maafku ini tidak akan bisa menghapus kesalahanku. Tapi aku ingin jujur sama kamu, kalau sekarang bukan kamu yang ada di hatiku. Waktu secara perlahan mengubah perasaanku."
Gadis itu lalu menangis pelan dan menutup sebagian wajahnya agar air matanya bisa berhenti.
"Mungkin ini yang terbaik untuk kita.Aku tidak berharap hubungan kita bisa kembali normal seperti teman karena aku tidak akan seegois itu. Suatu saat nanti pasti akan ada seseorang yang bakal jaga kamu dan tidak akan menyakiti kamu. Maafkan aku," katanya sambil menyeka air mata yang mengalir di wajah gadis itu.
Lalu lelaki itu beranjak pergi menjauh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar